| |
Isi Baterai dengan Pak Zulfikrie Anas: Kecilkan Porsi Ceramah
binaputera.org - Serang, Ahad, di penghujung Juli silam, kami, para pendidik di SMA BIna Putera Kopo, berkumpul. Biasa, acaranya ngeliwet sambil berbincang bagaimana melakukan proses penilaian yang lebih baik. Tahun ini kami mencoba menggunakan Buku Penilaian Mandiri sebagai alat penilaian. Intinya, peserta didik menghitung sendiri setiap nilai yang diperolehnya. Tahun ini juga kami mengimplementasikan penilaian afektif dengan pola self assessment. Anak setiap pecan diberi selembar kertas yang berisi “Pencapaian Hidup Saya Minggu ini”. Anak anak menilai sendiri apakah selama sepekan ia berlaku disiplin, rapih, sopan, serius belajar dan lain sebagainya. Biar lebih berisi, hari itu kami mengundang Pak Zulfikrie Anas dari Pusat Kurikulum untuk sekedar berbincang soal bagaimana mengefektifkan kegiatan belajar. Intinya, mengajar dengan cara ceramah dirasakan sudah ketinggalan zaman. POrsi ceramah harus diturunkan, kalau bisa kurang dari 20%. Para guru yang tidak mau berubah, cenderung menolak anggapan ini. Karena ia lebih suka melaksanakan jam mengajar --terserah apakah itu efektif atau tidak-- ketimbang jam belajar. Lumayan, diskusi berjalan santi tapi sangat esensial. “Saya harapkan teman-teman menjadi instruktur atau pemateri dalam setiap kegiatan. Jangan jadi peserta terus,” ungkap Pak Zul. Rencananya, setiap bulan kami akan melakukan sharing idea di mana pemateri akan digilir dari teman-teman para guru. Ya semua itu sesuai dengan tekad kami, “ Jadi guru atau tidak sama sekali.” “Sekali menjadi guru, atau mati tak berarti”.
[ Index | Versi Cetak | Kirim ke Teman ]
| |